Secangkir Kopi Hitam [part 2] : Review dan Permenungan ~ "I'm just a leaf,not a flower"
Secangkir Kopi Hitam [part 2] : Review dan Permenungan | "I'm just a leaf,not a flower"

Senin, 27 Agustus 2012

Secangkir Kopi Hitam [part 2] : Review dan Permenungan

Saya adalah seorang penggemar kafein, namun saya bukanlah penggemar kopi hitam. Walaupun demikian, buku yang berjudul "Secangkir Kopi Hitam [Kumpulan Catatan Saat Mereguk Pahit Nikmat Secangkir Kopi Hitam]" ini tetap asyik untuk dibaca sambil menikmati segelas besar White Koffie kesukaan saya.

Gaya bertutur khas seorang blogger, itulah kesan pertama saya saat mulai membaca catatan pertama dari buku ini, Politik Sungguh Aneh Dipahami Akal Sehat. Menurut saya, gaya bertutur demikian means in a good way. Dalam artian, gaya bertutur para blogger biasanya adalah sederhana, lugas, lebih banyak menggunakan ungkapan literally daripada figuratively, sehingga lebih mudah dipahami oleh pembacanya. Singkat katanya adalah, we speak the same languange. :)






Bagian pertama dari buku ini adalah "KONTEMPLASI". Catatan pertama dan kedua dari Kontemplasi ini tampaknya cukup relevan dengan kondisi aktual masa sekarang, walaupun oleh penulis, yaitu Ibu Nanik, ditulis di tahun-tahun yang berbeda, yaitu tahun 2008 dan tahun 2001.
Diktator, tidak seluruhnya minus. Seorang ditaktor bukan melulu pribadi rusak, kejam, tak bermoral. Ada diktator yang taat agama. Ada pula yang bersahaja. Ada yang ilmuwan universitas sederhana, dan tak pernah lepas dari buku.
Jujur quote yang saya ambil dari catatan kedua, Indonesia Perlu Pemimpin Seorang Diktator, tersebut sering sekali terlintas di pikiran saya.

Sebagai warga negara Ngayogyakarta Hadiningrat yang terdampar di belantara ibukota, saya merasa bersyukur karena di tanah kelahiran saya sampai saat ini [walau kelanjutan undang-undang keistimewaan masih menjadi gonjang-ganjing] paling tidak, saya tidak perlu mengikuti "event" seperti yang sedang happening di Jakarta beberapa waktu ini. Walaupun saya tidak ikut berpartisipasi dalam event akbar DKI Jakarta 2012 ini, namun sebagai kaum urban di Jakarta saya tetap merasakan atmosfir pilkada tersebut. Dari iklan "FOKE lah kalo begitu" yang diputer di bioskop-bioskop XXI yang sangat mengena, sampai-sampai saya mendonlot jinggle tersebut di hape saya dan hapal di luar kepala lirik iklan tersebut, dan tentu saja para penghuni klinik Naturevet sudah mbledhos mendengar saya berulang-ulang kali menyanyikannya. FYI : saya juga memiliki kaos kampanye si Foke, dimana Mr. Bear boleh ngerampok dari tetangga kostnya. Lain halnya dengan kubu rivalnya, kemarin minggu rupanya sedang ngetrend video youtube   aplot-an dari kelompok simpatisannya yang memparodikan lagu "That What Makes You Beautiful"-nya boiben alay "paporit" Aji, admin klinik kami. Dan gara-gara nadanya yang cheezy and catchy, juga liriknya mengena, alhasil giliran saya yang mbledhos karena semalaman di telepon si Mr. Bear mendendangkan lagu itu muluk. Ohmegots.. (--")

Anyhoo, catatan kedua yang ditulis oleh Ibu Nanik tersebut walau cukup singkat, namun berhasil menggelitik otak saya untuk berpikir juga. Dan kebetulan yang terbersit dalam pikiran saya pada saat itu adalah rasa syukur saya tadi. Sebagai penduduk Jakarta, walaupun saya tidak memiliki hak pilih, namun saya juga sangat mendambakan adanya pemimpin yang berani, kreatf, dan teguh pada prinsip, sama seperti yang dituliskan oleh Ibu Nanik di catatan kedua ini.

Bagian kedua buku Secangkir Kopi Hitam adalah "INTROSPEKSI". Dari yang saya tangkap, inti dari ketiga catatan di bagian ini adalah Kesederhanaan di dalam Krisis. Dengan mengambil 2 contoh dari tokoh yang sedang populer, yaitu Dahlan Iskan, dan tokoh legendaris bangsa kita, Bung Hatta, Ibu Nanik cukup berhasil menohok saya. Sebagai contoh adalah kelalaian saya yang kadang melupakan charger hape yang masih cementhel di colokan bila saya sedang terburu-buru ke klinik karena telat bangun, ataupun kebiasaan aneh saya yang lain di waktu malam, yaitu menyetel tipi kabel yang di-mute, sambil menyetel mp3 dari komputer dengan speaker keras. Keduanya benar-benar kebiasaan boros energi yang saya sadari, namun terkadang saya membandel. Yah, untuk hasil introspeksinya adalah, paling tidak saat saya menulis ini, saya sama sekali tidak menyetel tipi dan speaker dengan bas-treble yang mantap favorit saya juga tidak saya nyalakan [tobat sesaat]. :)

Bagian ketiga dari buku adalah "REFLEKSI". Bagian ini menurut saya adalah bagian yang paling emosional di dalam buku ini. Bagian ini menggambarkan jatuh-bangun, dan betapa teguh dan kuatnya Ibu Nanik, sang penulis dalam mengejar passion dan "Red Shoes"-nya [Note : untuk frase "Red Shoes" tidak ada di buku ini, namun someday akan saya tulis asal muasal frase ini]. Pengalaman buruk dan pengkhianatan menjadi bagian yang sangat manusiawi dalam buku ini. Untuk saya pribadi, catatan Episode Yang Ingin Dihapus kembali sangat menggelitik dan menohok saya, karena saya benar-benar seperti bercermin dari cataan beliau ini. Catatan ini mengingatkan diri saya sendiri dengan kebiasaan saya membuat auto-skip pada hard drive otak saya bilamana saya mengalami kejadian yang membuat tidak nyaman. Overall, we're all just the same inside, kaya kate lagunye Caitlin Crosby. :)

Bagian terakhir adalah bagian where my favorite part is, yaitu "INSPIRASI". Dari Al Gore, Luna Maya, sampai Tompa kucing kesayangan Ibu Nanik menjadi sumber inspirasi bagi beliau. Dalam artian bukan secara mentah Ibu Nanik mengidolakan mereka, namun kejadian yang ada di balik kisah-kisah tokoh-tokoh itulah yang menginspirasi. Khusus untuk catatan yang terakhir saya benar-benar mengerti bagaimana sulitnya menjalani yang Ibu Nanik hadapi, Ibu Nanik telah benar-benar total dalam merawat komitmennya, dan itulah yang membuat saya semakin mengagumi beliau.

Overall, buku ini saya sarankan bagi teman-teman yang ingin bersantai namun tetap terinspirasi tanpa harus mengerutkan kening. Sama seperti kafein yang pasti saya tenggak sebelum melakukan operasi, karena selalu berhasil membuat rileks namun sekaligus mampu membuat saya berkonsentrasi.


Rumah pun memiliki "ruh". Dia tidak boleh disia-siakan dan diterlantarkan. -Nanik Ismiani, 2007-

Awww,,dan alhasil sekarang saya merasa homesick level kronis teman-teman.. Terimakasih Ibu Nanik, and sampai jumpa lagi teman-teman.. :)

NOTE : OST for tonight : Same Inside - Caitlin Crosby [link]



0 comments: