Afriani dan Bully Massal ~ "I'm just a leaf,not a flower"
Afriani dan Bully Massal | "I'm just a leaf,not a flower"

Senin, 23 Januari 2012

Afriani dan Bully Massal

Pernahkah di suatu titik dalam hidup anda, anda membuat kesalahan yang hukan hanya akan anda sesali seumur hidup, melainkan juga akan menghantui setiap hari di sisa hidup anda?? Mungkin itulah yang terjadi dengan diri seorang wanita yang sedang happening hari ini, yaitu Afriani Susanti atau yang lebih dikenal sebagai si Neng April. Mobil yang dia kendarai menyapu 12 orang pejalan kaki di suatu pagi, dan 9 diantaranya meninggal. Setelah diselidiki, ternyata Afriani tersebut sedang berada dalam kondisi loaded akibat pengaruh alkohol dan obat-obatan. Kutukan-kutukan, sumpah serapah, Hujatan demi hujatan dan bahkan menjadi konsumsi pem-bully-an massal di media sosial pun dia terima hari ini. Dan persis seperti wabah suatu virus, pembullyan ini pun berjalan dengan suksesnya, dari yang bersifat verbal tulisan, sampai gambar-gambar dan foto-foto yang berisi cacian. Bahkan pembullyan pun sudah mulai merangkak ke arah yang bukan hanya mengenai kecelakaan maut itu, melainkan sampai juga ke bentuk fisik tubuhnya. Maha dasyat benar kekuatan media sosial internet sekarang.



Well, I've been on her position once. Maksud saya bukan tentang sabu campur ekstasi watevernya loh, melainkan saya juga pernah membuat kesalahan yang membayangi saya seumur hidup. Banyak yang mengetahui bahwa di lutut kiri saya terpasang sekrup platina akibat kecelakaan motor. Namun hanya sedikit yang tau, apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu. Pada saat itu saya berada dalam kecepatan yang melampaui kemampuan saya dan saya juga sedang out of my focus. Nah tiba-tiba dari kanan jalan tanpa saya sadari ada seorang bapak tua menyeberang jalan, saya kaget melihatnya dan langsung saya banting haluan stang motor ke kiri, namun seper sekian detik, saya merasakan bahwa motor saya menyerempet [atau malah menabrak saya ga tau] si bapak tua tersebut. Saya kemudian terjatuh bersama motor saya, dan hal yang pertama saya lakukan setelah saya terjatuh adalah saya menengok dengan panik ke belakang untuk melihat keadaan bapak tua yang telah saya tabrak tadi. Dan untunglah, ternyata bapak tua tersebut bisa berdiri dan berjalan dipapah orang-orang yang menolongnya. Saya sendiri langsung diangkat dan dibawa ke RS sehingga saya tidak mengetahui apa yang terjadi selanjutnya dengan bapak tua tersebut, bahkan sampai sekarang saya tidak juga mengetahuinya.


Saya sangat bersyukur Tuhan memberi saya patah tulang ini, dan menyelamatkan bapak tua itu. Saya lebih memilih keadaan ini daripada si bapak tua itu yang kenapa-kenapa. Saya tidak bisa membayangkan bila terjadi sesuatu dengan bapak itu, saya harus bangun setiap harinya dengan kenangan pahit dan wajah bapak itu menghantui saya setiap hari. That accident was definitely my mistake, benar-benar kesalahan saya. Saya sedang tidak fokus saat itu karena fokus saya tertuju pada hal yang lain. Dimana otak saya saaat itu??!! Hampir sama dengan kesalahan yang dilakukan Afriani. Mengendarai dalam pengaruh obat dan alkohol adalah suatu kebodohan. Kebodohan yang bakalan dia sesali seumur hidupnya. Bayangkan dia harus tidur setiap malam dengan flash back kejadian itu yang diputar berulang-ulang di otaknya, dan kemudian di pagi harinya setiap membuka mata bayangan dari korban-korban kecelakaan itu menghantuinya setiap hari. Wow, membayangkannya saja saya mual. 


Saya masih teringat pasien pertama saya yang mati di meja operasi. Entah itu murni kesalahan saya atau bukan, namun saya tetap merasa bahwa itu kesalahan saya. Dan walaupun saya sudah meminta maaf kepada sang pemilik, menerima konsekwensi dari kejadian tersebut, dan membayar harga yang mahal [litterally and figuratively] untuk hal tersebut, namun flash back kejadian 3 tahun yang lalu itu masih membayangi saya sampai hari ini. Bahkan sampai saat ini, saya selalu menyebut nama anjing yang mati di tangan saya tersebut di setiap doa pagi saya. RIP Kimshu. Hmmmm, itu "hanya" anjing, bukan 9 nyawa manusia! Saya tidak bisa bayangkan apa yang terjadi di dalam diri Afriani sekarang. Bagaimana bila saya berada dalam posisi dia. Tanpa bully yang dia terima di twitter dan fesbuk pun sudah sangat berat, apalagi ditambah dengan virus bully tersebut. 


Saya tidak berada di pihak siapa-siapa. Saya tidak membela Afriani, karena yang Afriani lakukan memang suatu kebodohan dan berakibat sangat fatal. Saya juga tidak antipati dengan bully yang dilakukan di sosial media. Sudah menjadi kewajaran dan manusiawi untuk mengutuk orang yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Keluarga yang ditinggalkan para korban akan terus mengingat kejadian ini, dan bagi Afriani, her life would never be the same again. Saya sangat-sangat turut berduka cita bagi korban-korban dan keluarga yang ditinggalkan tersebut, dan di sisi lain I'm so sorry for u too, Afriani. Been there before, that's why I won't join the bully team. RIP para korban kecelakaan di Tugu Tani.

You got me all wrong, You wandered away
Without which I am nothing, Much more than I can say
You got me all wrong, You got me all wrong
You got me all wrong, You got me all wrong
-Dios Malos-
*You got me all wrong - Dios Malos [OST. The OC] [link]

6 comments:

NF mengatakan...

Mudah2an saja ada hikmah yg bs d ambil Afriani dr kejadian ini. Tp bagaimana dengan keluarga korban?? Apa hikmah yg mreka dapat?? Wallahu'alam

Bully adalah akibat. Konsekuensi.

denis stya mengatakan...

dari artikel ini yang saya tangkap, ehm kamu seorang dokter hewan yah ?,. ^_^

tuanputriburukrupa mengatakan...

@NF pasti ada hikmahnya, bahkan utk para keluarga korban, coz HE always has HIS own plan for every thing that happen in lifes.
Bully memang konsekwensi, namun paling tidak kita sebagai "fihak yang waras" n tdk dlm keadaan "loaded" bisa mengerem mulut n tangan kita untuk membully hal2 yg tidak relevan dengan kejadian ini [misal : fisik dr si pelaku atau membuat lelucon ttg kejadian ini].
FYI: saya jg mengumpat kok saat membaca kejadian ini, saya mengumpat "Guoblok!! Ura duwe utek po piye??!!!", tapi ya hanya sebatas itu n tidak perlu saya memajangnya di akun twitter saya secara "overdose". =)

tuanputriburukrupa mengatakan...

@denis stya iyes, tepat sekali tebakan anda. I am a vet surgeon. ;)

dhindledoo mengatakan...

overall, this is the kind of thing that popped in my mind menanggapi maraknya social bully terhadap Afriani. They said 6 tahun penjara itu sangatlah tidak cukup untuk menghukum kesalahannya. Well, she might stays in jail for a bout 6 years approximately, but don't they forgot about hukuman yang lebih absolut, yakni "hukuman secara sosial". Yang akan ia terima for like, the rest of her life?
Saya tidak membela Afriani dalam hal ini, apa yg dia telah lakukan jelas jelas mengerikan dan tidak bertanggung jawab. But i really horrified watching our peoples mind, sometimes they reflect an impression that they are lack of humanity...

tuanputriburukrupa mengatakan...

@dhindledoo Betul sekali. Saya setuju. That's what my point is. Virus kebencian tsb benar2 mewabah, n lbh parahnya lg semuanya itu dimediasi [baca:dikompor2i] jg oleh pemberitaan media2 masa online seperti Detik, Vivanews, dll yg menebarkan bumbu opini di pemberitaannya. Saya bukan orang yg bergerak di bidang jurnalistik, namun saya juga bukan orang yg akan langsung menelan mentah2 judul pemberitaan "Afriani tidak menunjukkan wajah menyesal". Dari judulnya saja sudah menunjukkan suatu opini yg menggiring para pembacanya, dan sayang sekali banyak orang yg terkompor setelah membaca sepotong opini tersebut.
Kl di sunia nyata, jambret yg tertangkap diamuk massa, dipukuli, bahkan mau dibakar massa yg tersulut main hakin sendiri. Sedangkan di dunia maya, bullying menjadi senjata andalan amuk massa. 2 dunia yg berbeda, namun serupa..